Meski saat ini pengetahuan masyarakat tentang depresi sudah jauh lebih baik, terkadang masih ada juga kesalahpahaman yang beredar tentang depresi. Agar tidak salah dalam menanggapinya, Anda perlu mengetahui beberapa kesalahpahaman umum tentang depresi di masyarakat.  

Depresi adalah gangguan suasana hati atau mood yang terjadi terus-menerus selama minimal 2 minggu. Kondisi ini ditandai dengan hilangnya minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai, tidak bertenaga, tidak nafsu makan, hasrat seksual menurun, dan merasa putus asa, bersalah, atau rendah diri.

Kesalahpahaman Umum Tentang Depresi - Alodokter

Pemahaman yang Salah tentang Depresi

Berikut ini adalah contoh kesalahpahaman masyarakat terhadap depresi:

1. Depresi dianggap sama dengan kesedihan

Istilah depresi sering kali diucapkan untuk menggambarkan rasa sedih. Kesedihan karena kegagalan atau kehilangan seseorang dalam hidup adalah hal wajar yang dialami semua orang. Akan tetapi, kesedihan sesaat ini berbeda dengan depresi.

Depresi dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan dan membuat orang yang mengalaminya terus-menerus merasa tidak bahagia, tidak bertenaga, lemas, putus asa, dan tidak berminat terhadap apa pun.

2. Depresi membutuhkan alasan spesifik

Banyak orang beranggapan bahwa jika seseorang sukses atau memiliki kehidupan yang mapan, ia tidak memiliki alasan untuk depresi. Contohnya, seseorang dengan kondisi karier, keuangan, dan hidup rumah tangga yang stabil, dianggap jauh dari kata depresi.

Nyatanya, depresi bisa tetap terjadi pada orang-orang tersebut. Mereka bisa saja tetap merasa tidak cukup baik dan rendah diri. Ini karena depresi tidak harus selalu dipicu oleh kondisi atau kejadian tertentu yang menyebabkan trauma psikis.

3. Antidepresan saja cukup untuk menyembuhkan depresi

Dokter biasanya akan meresepkan obat antidepresan untuk mengatur aktivitas zat-zat kimia dalam otak guna meringankan gejala depresi. Namun, pemberian obat antidepresan tanpa psikoterapi tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, diperlukan keduanya untuk mengatasi depresi.

4. Pembahasan tentang depresi akan membuat penderitanya makin depresi

Ada anggapan bahwa membahas depresi dengan penderitanya membuat ia semakin depresi. Pada kenyataannya, penderita depresi yang dibiarkan sendirian dengan pikirannya justru lebih berisiko melukai diri.

Jika keluarga atau teman mau mendengarkan tanpa menghakimi, hal tersebut justru membuat penderita depresi merasa terbantu dan tidak sendirian.

Hal-hal di atas adalah beberapa contoh dari kesalahpahaman tentang depresi yang beredar di masyarakat. Jika memiliki teman atau keluarga yang menderita depresi dan masih bingung bagaimana cara yang tepat untuk menyikapinya, Anda dapat meminta petunjuk lebih lanjut dari psikolog atau psikiater.

 

Ditulis oleh:

Irene Cindy Sunur